"Metamorfosis"

Karya lukisan ini dibuat di Studiohanafi, Depok dalam kegiatan Belajar Bersama Maestro 2017.
Kupersembahkan kepada mereka yang dulu sangat "mecintai" ku
Terima kasih banyak.
......





Metamorfosis

            Memori adalah salah satu anugerah Tuhan yang dahsyat. Keberadannya bisa meghasilkan perasaan tersendiri pada tiap lembarannya yang muncul. Memori bisa menghidupkan, bisa pula membunuh. Menggugah perasaan atau membunuh perasaan. Sehingga hidup kita sebetulnya tidak lebih merupakan rangkaian memori itu sendiri yang terus lahir pada tiap detik-detik waktu yang mati satu persatu.  Tapi,  keberadaan memori itu sendiri sebetulnya fana, suatu saat pasti akan mati, sama seperti waktu. Tuhan itu maha besar dan maha asyik.
            Aku ingat,  ketika aku SD,  kata orang-orang aku adalah anak yang pendiam dan pemalu. Bergerak minimalis, culun dan cengen. Sehingga dulu aku merupakan salah satu target bully disekolah. Dimata mereka aku adalah anak dengan 1000 kekurangan dan 1000 kelebihan. Di satu sisi aku adalah seorang bocah yang sulit berteman, punya tanda istimewa di wajah nya, tidak bisa melafalkan huruf “r”, hingga bersumbu pendek, mudah tersulut amarah dan berakhir pada perkelahian membabi-buta. Sementara di satu sisi lainnya mereka memandangku sebagai anak yang disayang guru, pandai memainkan pensil dan krayon, punya pencapaian yang baik pada akademis maupun non-akademis dan berbagai bla-bla lainnya.
            Ada orang berkata, “Setidaknya dalam kehidupan, seseorang akan berada satu atau dua kali pada titik terendahnya dalam kehidupan”. Hingga suatu ketika aku mengalami insiden. Tulang tangan ku patah. Radius dan Ulna pada tangan kananku nampaknya tak betah lagi hidup berdampingan bersama, mereka akhirnya “broke” dan akhirnya saling menjauhi, lebih jauh. Mimpi terburuk sepanjang hidupku akhirnya tiba juga. Tidak bisa menulis, menggambar dan kegiatan dasar lain yang ada. Bertahun-tahun berlalu ditemani oleh rasa sakit dan keterbatasan gerak. Kekurangan dan kelebihan tadi akhirnya menjadi berat sebelah ke kiri. Banyak aku menerima ejekan dan berbagai pesan-pesan berbau sinisme. Mereka berbicara layaknya Tuhan yang tahu kehidupanku kelak. Aku ingat sekali dulu aku tidak punya uang untuk berobat dirumah sakit. Aku melipat kerudung putih sisa milih kakak ku, kemudian ku ikatkan hingga bisa menggantung tanganku untuk istirahat.
            Dari insiden ini akhirnya aku belajar lebih jauh mengenai makna kehidupan. Aku sadar masih banyak orang yang tak nyenyak dalam tidurnya. Aku sadar masih banyak orang yang lebih “kurang”, namun dengan totalitas bisa menghasilkan sesuatu yang “lebih”. Kekurangan yang baru aku miliki ini pada akhirnya aku olah menjadi motivasi untuk melompat lebih jauh. Menumbuhkan karya-karya baru yang dapat membungkam mereka yang sinis dahulu itu. Pembuktian ku bukan lah tentang balas dendam kepada mereka. Tapi lebih ke arah mengajak mereka untuk sadar tentang kemampuan. Aku tidak benci mereka, Sunggu aku sayang kepada mereka. Karya ini kelak menjadi “surat cintaku” ku kepada mereka. Radius & Ulna ku siap memeluk hangat mereka, kemudian berbisik halus di samping telinga kanan nya “Sungguh, Tuhan itu maha penguasa, maha penyayang, maha tau dan maha asyik”

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram